Laman

Profil

be a real muslim !

Rabu, 20 April 2011

Al Hasan Ibn Al-Haytham (Bapak Optik Dunia dan Ahli Fisika Muslim)





               
              Sejarah telah membuktikan betapa dunia Islam telah melahirkan ramai golongan sarjana dan ilmuwan yang cukup hebat dalam bidang falsafah, sains, politik, kesusasteraan, kemasyarakatan, agama, perubatan, dan sebagainya. Salah satu ciri yang dapat diperhatikan pada para tokoh ilmuwan Islam ialah mereka tidak sekadar dapat menguasai ilmu tersebut pada usia yang muda, malah dalam masa yang singkat dapat menguasai beberapa bidang ilmu secara serentak. .Ilmuan tersebut banyak melahirkan karya-karya besar yang berguna bagi kelangsungan hidup manusia hingga sekarang.
              Terkhusus dalam bidang mekanisme penglihatan pada manusia yang menjadi dasar teori optik modern saat ini. Tak banyak yang mengetahui bahwa yang pertama kali menjelaskan tentang hal itu adalah seorang Ilmuan Muslim yang berasal dari Irak bernama Al Hasan Ibn Al Haytham dan dalam lidah orang barat sering disebut Alhazen.

ISLAM DAN RASISME



            Malam belum larut ketika Stephen Lawrence, 18 tahun, tewas dikeroyok gerombolan pemuda dekat sebuah halte bus di Well Hall Road, Eltham, tenggara London pada 22 April 1993. Saksi mata mengatakan, serangan tersebut begitu tiba-tiba , cepat dan mengejutkan. Lima orang pemuda ‘bula’ sekonyong-konyong mengepung remaja malang  keturunan jamaika itu, menikam dadanya, lalu kabur melarikan diri. Stephen yang berlumuran darah berusaha bangkit berjalan beberapa meter, namun nafasnya berakhir sebelum ambulan datang. Meski kasus menghebohkan ini sempat beberapa kali disidangkan, kelima terdakwa belakangan dibebaskan dengan alasan tidak cukup bukti.
            Kekerasan rasial semacam diatas tidak dapat dibenarkan, itu belum termasuk pembunuhan massal yang terjadi sejak zaman baheula hingga sekarang ini yang terjadi di berbagai belahan dunia. Yang pasti, kejadian-kejadian tersebut hanyalah puncak dari pengejawantahan kebencian, prapenilaian(prejudice) serta stereotip, pelecehan, penindasan, dan kezaliman terhadap orang lain atas dasar suku, bangsa, warna kulit, bahasa ataupun budaya.