Malam belum larut ketika Stephen
Lawrence, 18 tahun, tewas dikeroyok gerombolan pemuda dekat sebuah halte bus di
Well Hall Road, Eltham, tenggara London pada 22 April 1993. Saksi mata
mengatakan, serangan tersebut begitu tiba-tiba , cepat dan mengejutkan. Lima
orang pemuda ‘bula’ sekonyong-konyong mengepung remaja malang keturunan jamaika itu, menikam dadanya, lalu
kabur melarikan diri. Stephen yang berlumuran darah berusaha bangkit berjalan
beberapa meter, namun nafasnya berakhir sebelum ambulan datang. Meski kasus
menghebohkan ini sempat beberapa kali disidangkan, kelima terdakwa belakangan
dibebaskan dengan alasan tidak cukup bukti.
Kekerasan rasial semacam diatas
tidak dapat dibenarkan, itu belum termasuk pembunuhan massal yang terjadi sejak
zaman baheula hingga sekarang ini yang terjadi di berbagai belahan dunia. Yang
pasti, kejadian-kejadian tersebut hanyalah puncak dari pengejawantahan
kebencian, prapenilaian(prejudice) serta stereotip, pelecehan, penindasan, dan
kezaliman terhadap orang lain atas dasar suku, bangsa, warna kulit, bahasa
ataupun budaya.
Bicara rasisme membuat kita terpaksa
bicara juga soal kekuasaan atau dominasi politik, struktur, hirarki, serta
sejarah panjang perjalan manusia, terutama relasi dan interaksi antar kelompok
satu sama lain. Rasisme disini merupakan cara sistematis yang dilakukan suatu
kelompok untuk menguasai sumber daya alam atau memperbudak kelompok lain. Jika ada hirarki diantara mereka , maka ini
akan mentukan kelompok mana yang lebih berkuasa dan unggul dibanding kelompok
lain. Kelompok yang dominan menganggap diri mereka lebih berhak mendapat
keistimewaan diatas penderitaan orang lain.
Sikap dan perilaku rasisme seperti
telah mendapatkan justifikasi dari Aristoteles. Menurut filsuf Yunani Purba
ini, penduduk daerah dingin(Eropa) pada umumnya kurang terampil dan kurang
cerdas, sementara orang Asia kurang mampu berfikir dan bersaing sehingga mereka
terus-menerus dijajah dan diperbudak. Pembagian ini adil katanya.
Kombinasi tiga hal(karakter fisik,
mental, perasaan paling unggul) dijadikan acuan oleh generasi kemudian untuk
membangun teori keunggulan ras dan menjustifikasi berbagai penindasan dan
peperangan.
Manifestasi rasisme yang paling
menyolok adalah perbudakan, pembantaian ras yang dilakukan orang eropa terhada
bangsa berkulit hitam. Bagi mereka warna hitam adalah lambang kejahatan,
kekurangan, kehinaan, dan kutukan. Dan Mitos yang coba dikukuhkan ialah bahwa
orang-orang berkulit hitam itu liar, tidak berakal, buas dan pemakan daging
manusia.
Berbeda dengan orang-oran eropa,
Islam mengecam dan mencoba mengikis habis segala bentuk kezaliman berbasis ras.
Bahwa manusia dicitakan berbeda-beda rupa dan warna kulitnya, masing-masing
mempunyai bahasa dan kultur sendiri,
semua itu adalah pertanda dari Allah Ta’ala untuk direnungkan oleh mereka yang
berilmu. Allah berfirman dalam Surat Ar-rum
22 yang artinya :
“Dan di antara
tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan
bahasamu dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar
terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui”
Perbedaan
ras,etnis, dan suku semestinya mendorong manusia agar saling mengenal, saling
menghargai, saling melindungi, bekerja sama, tolong menolong, dan bahu-membahu dalam
meraih kebahagiaan dan mengatasi masalah bersama bukan malah saling meghina,
mendzolimi satu sama lain. Hal ini tentunya tidak bisa dibenarkan. Allah berfiman
dalam Sura Al-Hujurat ayat 13 yang artinya :
“Hai manusia,
sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan
dan menjadikan kamu berbangsa - bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling
kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah
ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui
lagi Maha Mengenal”
Dari ayat diatas bisa disimpulkan bahwa orang yang paling baik dan mulia disisi Allah bukanlah dilihat dari sisi ras, warna kulit akan tetapi yang paling mulia dilihat dari sisi ketaqwaan hamba kepad Allah.
Dari ayat diatas bisa disimpulkan bahwa orang yang paling baik dan mulia disisi Allah bukanlah dilihat dari sisi ras, warna kulit akan tetapi yang paling mulia dilihat dari sisi ketaqwaan hamba kepad Allah.
Apa yang
tersebut diatas ditegaskan oleh Rasulullah Sholallahu’alihi Wassalam dalam
‘khutbah perpisahan’ beliau di hadapan ribuan jamaah haji di bukit Arofah pada
hari Jum’at, 9 Dzulhijjah 10 H,” Wahai manusia,dengarlah baik-baik. Aku tidak
tahu apakah tahun depan aku masih dapat bersama kalian. Simaklah apa yang akan
kukatakan dan sampaikanlah kepada mereka yang tidak dapat hadir saat
ini....Setiap manusia adalah anak Adam dan Hawa. Orang Arab tidak lebih
istimewa dari orang bukan Arab. Dan orang bukan Arab tidak lebih istimewa dari
orang Arab. Demikian pula orang kulit putih tidak lebih istimewa di banding orang kulit hitam. Dan orang kulit
hitam tidak lebih istimewa dibanding orang kulit merah, kecuali orang taqwa dan
amal sholihnya. Ketahuilah bahwa setiap orang Muslim adalah saudara bagi orang
Muslim lainnya. Tidak boleh ia mengambil sesuatu milik saudaranya kecuali
dengan izin dan ridhonya. Jangan saling medzalimi. Ingatlah satu hari nanti
kalian akan bertemu Allah dan mempertanggungjawabkan perbuatan kalian.(HR.
Bukhori, Muslim, Tirmidzi, Ahmad, Abu Dawud,dll). Wallahu A’lam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar